Rabu, 28 Mei 2014

MACAM-MACAM METODE PEMBELAJARAN

Secara umum metoda diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Adapun metoda mengajar (pembelajaran) ialah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pembelajaran kepada siswa (Tardif: 1987). Metoda pembelajaran dapat pula diartikan sebagai suatu cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainnya agar terjadi proses pembelajaran. Prinsip dasar pembelajaran yang dimaksud di antaranya adalah prinsip psikologis pendidikan dan prinsip pedagogis. Adapun teknik-teknik yang terkait dengan pembelajaran di antaranya adalah teknik komunikasi dan teknik pengelolaan atau manajemen pembelajaran (Ginting, 2008: 42).

Memilih dan menentukan metoda pembelajaran untuk suatu kegiatan belajar dan pembelajaran hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Tidak ada satupun metode yang paling unggul karena semua memiliki karakteristik yang berbeda, dan memiliki kelemahan dan keunggulan
  2. Setiap metode hanya sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi tertentu dan tidak sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi lainnya.
  3. Setiap kompetensi mempunyai karakteristik yang umum maupun yang spesifik sehingga pembelajaran suatu kompetensi membutuhkan suatu metode yang mungkin tidak sama dengan kompetensi yang lain
  4. Setiap siswa memiliki sensifitas berbeda terhadap metode pembelajaran
  5. Setiap siswa memiliki bekal perilaku berbeda serta tingkat kecerdasan yang berbeda pula
  6. Setiap materi pembelajaran membutuhkan waktu dan sarana yang berbeda
  7. Tidak semua sekolah memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap
  8. Setiap guru memiliki kemampuan dan sikap yang berbeda dalam menerapkan suatu metode pembelajaran.

Terdapat banyak sekali metode pembalajaran saat ini,tapi yang akan dijelaskan dibawah ini adalah metode-metode pembelajaran yang umum digunakan.

  1. Metode Ceramah
    1. Pengertian
    2. Metode ceramah adalah metode memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah murid pada waktu dan tempat tertentu. Dengan kata lain metode ini adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ini disebut juga dengan metode kuliah atau metode pidato.

      Menurut Nana Sudjana ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak akan baik apabila penggunaannya dipersiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas penggunaannya. ( Nana Sudjana 2000:77). sedangkan menurut Drs. Muhaimin MA, dkk, metode ceramah merupakan kombinasi dari metode hafalan, diskusi dan Tanya jawab (Muhaimin, dkk, 1996: 83). Sedangkan menurut W. Scham dalam bukunya "the process and effects of mass communication" dalam hal ingatan sesuatu yang disampaikan dengan lisan lebih lama ingat dari pada disampaikan dengan tulisan. Selain itu, mmetode ceramah itu pada umumnya dilakukan secara pebicaraan face to face hal ini menurut W. Schram adalah sangat efektif.

      Dalam metode ceramah ( lecture method) adalah sebuah cara Melaksanakan pengajaran yang dilakukan oleh guru secara monolog dan hubungan satu arah (one way communication), metode ini dipandang paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literature atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya faham siswa.

    3. Kelebihan Metode Ceramah
      • Materi yang diberikan terurai dengan jelas.
      • Suasana kelas berjalan dengan tenang, karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komprehensif.
      • Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu yang cukup singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersama.
      • Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.
      • Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan enyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat.

    4. Kelemahan Metode Ceramah
      • Guru lebih aktif sedangkan murid pasif karena perhatian hanya terpusat pada guru saja.
      • Murid seakan diharuskan mengikuti segala apa yang disampaikan oleh guru, meskipun murid ada yang bersifat kritis karena guru dianggap selalu benar.
      • Interaksi cenderung bersifat Centred (berpusat pada guru)
      • Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah menguasai bahan ceramah.
      • Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru.
      • Siswa kurang menangkap apa yang dimaksud oleh guru, jika ceramah berisi ceramah-ceramah yang kurang atau tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya mengarah verbalisme.

    5. Prosedur/Langkah-Langkah Metode Ceramah
    Ada tiga langkah pokok yang harus diperhatikan, yakni persiapan, pelaksanaan dan kesimpulan. Langkah-langkah tersebut diantaranya adalah:
    1. Tahap Persiapan
    2. Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah:
      1. Merumuskan tujuan yang ingin dicapai.
      2. Menentukan pokok-pokok materi yang akan diceramahkan.
      3. Mempersiapkan alat bantu.
    3. Tahap Pelaksanaan
    4. Pada tahap ini ada tiga langkah yang harus dilakukan:
      1. Langkah Pembukaan.
      2. Langkah pembukaan dalam metode ceramah merupakan langkah yang menentukan. Keberhasilan pelaksanaan ceramah sangat ditentukanoleh langkah ini.
      3. Langkah Penyajian.
      4. Tahap penyajian adalah tahap penyampaian materi pembelajaran dengan cara bertutur. Agar ceramah berkualitas sebagai metode pembelajaran, maka guru harus menjaga perhatian siswa agar tetap terarahpada materi pembelajaran yang sedang disampaikan.
      5. Langkah Mengakhiri atau Menutup Ceramah.
      6. Ceramah harus ditutup dengan ringkasan pokok-pokok matar agar materi pelajaran yang sudah dipahami dan dikuasai siswa tidak terbang kembali. Ciptakanlah kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswatetap mengingat materi pembelajaran. Perlu diperhatikan, bahwa ceramahakan berhasil baik, bila didukung oleh metode-metode lainnya, misalnya tanya jawab,tugas, latihan dan lain-lain. Metode ceramah itu wajar dilakukan bila: (a) ingin mengajarkan topik baru, (b) tidak ada sumber bahan pelajaran pada siswa, (c) menghadapi sejumlah siswa yang cukup banyak.

  2. Metode Demonstrasi
    1. Pengertian
    2. Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta.

      Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan. Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau prosedur yang dilakukan misalnya : proses mengerjakan sesuatu, proses menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu.

    3. Kelebihan Metode Demonstrasi
      • Perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran yang diberikan.
      • Kesalahan-kesalahan yang terjadi bila pelajaran itu diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh yang konkrit.
      • Memberi motivasi yang kuat untuk siswa agar lebih giat belajar.
      • Siswa dapat berpartisipasi aktif dan memperoleh pengalaman langsung
      • Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang didemontrasikan itu.
      • Proses pembelajaran akan sangat menarik, sebab siswa tak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
      • Menyajikan materi yang tidak bisa disajikan oleh metode lain.

    4. Kelemahan metode demonstrasi
      • Bila alatnya terlalu kecil atau penempatannya kurang tepat menyebabkan demonstrasi itu tidak dapat dilihat jelas oleh seluruh siswa.
      • Bila waktu tidak tersedia cukup, maka demonstrasi akan berlangsung terputus-putus atau berjalan tergesa-gesa.
      • Tidak semua guru dapat melakukan demonstrasi dengan baik.
      • Terbatasnya sumber belajar, alat pelajaran, media pembelajaran, situasi yang sering tidak mudah diatur dan terbatasnya waktu.
      • Metode demonstrasi memerlukan persiapan dan perancangan yang matang.

    5. Prosedur/Langkah-Langkah Metode Demonstrasi
      • Tahap Persiapan
      • Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:
        1. Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir.
        2. Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan.
        3. Lakukan uji coba demonstrasi.
      • Tahap Pelaksanaan
      1. Langkah pembukaan. Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya:
        1. Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
        2. Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
        3. Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
      2. Langkah pelaksanaan demonstrasi.
        1. Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaanpertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
        2. Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
        3. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa
        4. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.
      3. Langkah mengakhiri demonstrasi. Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.

  3. Metode Tanya Jawab
    1. Pengertian
    2. Metode tanya jawab merupakan cara lisan menyajikan bahan untuk mencapai tujuan pengajaran.

      Metoda tanya jawab adalah metoda pembelajaran di mana materi ajar disampaikan dalam bentuk tanya jawab antara guru dengan siswa dan sesama siswa (Gintigs, 2008: 45). Keberhasilan penggunakan metoda tanya jawab dalam kegiatan pembelajaran sangat ditentukan oleh penguasaan teknik atau keterampilan guru dalam menyampaikan dan menjawab pertanyaan. Terkait dengan teknik menyampaikan dan menjawab pertanyaan tersebut, terdapat enam kata yang mendasari semua jenis pertanyaan yang biasa disebut dengan istilah 5W+1H, yaitu:

      1. What (Apa)
      2. Why (Mengapa)
      3. When (Kapan)
      4. Where (Di mana)
      5. Who (Siapa)
      6. How (Bagaimana)

      Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetpi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.

      Metode ini dapat diklasifikasikan sebagai metode tradisional atau konvensional. Dalam metode tanya jawab, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa menjawabnya, atau sebaliknya siswa bertanya guru menjelaskan. Dalam proses tanya jawab, terjadilah interaksi dua arah. Guru yang demokratis tidak akan menjawabnya sendiri, tetapi akan melemparkan pertanyaan dari siswa kepada siswa atau kelompok lainnya tanpa merasa khawatir dinilai tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Dengan metode tanya jawab tidak hanya terjadi interaksi dua arah tetapi juga banyak arah. Ketika anak menanyakan tentang bilangan prima, sebagai misal, guru yang demokratis tidak akan menjelaskan sampai tuntas tentang apa itu definisi bilangan prima, dan kemudian memberikan contoh bilangan prima. Dari pertanyaan ini akan muncul beberap orang ayang akan berinteraksi di dalam pertanyaan tersebut. Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa.

    3. Kelebihan Metode Tanya Jawab
      • Guru dapat mengetahui penguasaan pelajar terhadap bahan yang telah disajikan.
      • Dapat digunakan untuk menyelidiki pembicaraan-pembicaaraan untuk menyemangatkan pelajar.
      • Memotivasi siswa untuk mempersiapkan diri dan mengikuti proses pembelajaran secara aktif
      • Mendorong siswa berfikir kritis dan memperkaya pemahaman terhadap materi yang diajarkan
      • Dapat digunakan untuk menguji pengetahuan factual siswa untuk berbagai tingkat kemampuan atau taxonomi untuk semua ranah terutama ranah kognitif
      • Dapat digunakan sebagai alat motivasi ekstrinsik yang akan meningkatkan semangat belajar siswa serta ketertarikan terhadap materi yang diajarkan
      • Dapat digunakan untuk mengarahkan siswa kepada hasil belajar yang hendak dicapai karena tanya jawab dapat memfokuskan perhatian siswa kepada materi pembelajaran
      • Mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran

    4. Kelemahan metode tanya jawab
      • Guru hanya memberikan giliran pada pelajar tertentu saja.
      • Hanya dikuasai oleh siswa yang pandai.
      • Bila terjadi perbedaan pendapat, akan banyak menyita waktu untuk menyelesaikannya.
      • Tanya jawab dapat menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan/ materi pembelajaran, hal ini terjadi jika guru tidak dapat mengendalikan jawaban atas segala pertanyaan siswanya
      • Membutuhkan waktu lama untuk merangkum materi pembelajaran
      • Tanya jawab akan dapat membosankan jika yang ditanyakan tidak ada variasi

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan Metode Tanya Jawab
      • Pertanyaan-pertanyaan disusun berdasarkan tujuan yang jelas dan pasti.
      • Pertanyaan terarah pada pencapaian tertentu serta tidak memberikan pertanyaan tertentu serta tidak memberikan pertanyaan yang menimbulkan kebingungan dalam berpikir kepada anak didik.
      • Kata-kata dan kalimat pertanyaan supaya tersusun secara tepat dan terarah.
      • Menggunakan perbendaharaan bahasa sesuai dengan tingkat pemahaman siswa dalam suatu kelas.

  4. Metode Kerja Kelompok
    1. Pengertian
    2. Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menyuruh pelajar (setelah dikelompok-kelompokkan) mengerjakan tugas tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran. Merka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas. Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (2002:34) mengemukakan kerja kelompok berarti kerja kepemimpinan dan keterpimpinan yang perlu dipelajari siswa untuk bekal dalam kehidupannya nanti”. Selanjutnya secara lebih lengkap Burton (Nasution 2000:56) menjelaskan “kerja kelompok ialah cara individu mengadakan relasi dan kerjasama dengan individu lain untuk bekerja sama. Relasi di dalam kelompok demokratis artinya setiap individu berpartisipasi, ikut serta secara aktif dan turut bekerjasama, sehingga individu akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dan mengalami perubahan sikap”. Keuntungan yang diperoleh dari adanya pembelajaran dengan pendekatan kelompok adalah sebagai berikut. a) siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, terlibat secara aktif dan memiliki usaha yang lebih besar untuk berprestasi, b) siswa mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi dan berfikir kritis dan c) terjadinya hubungan yang positif antar siswa. Dengan demikian pembelajaran kelompok berhubungan dengan proses belajar yang dilakukan siswa secara bersama-sama melalui komunikasi interaktif dengan dipimpin oleh seorang pemimpin untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan materi pelajaran. Untuk membentuk manusia demokratis harus ditekankan pelaksanaan kerjasama atau kerja kelompok, karena menurut para ahli pendidikan prinsip kerjasama lebih banyak faedahnya daripada sistem persaingan. Nasution (2000:34) mengemukakan beberapa manfaat dari kerja kelompok sebagai berikut.
      1. Mempertinggi hasil belajar, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
      2. Keputusan kelompok lebih mudah diterima setiap anggota, bila mereka turut memikirkan dan memutuskan bersama-sama.
      3. Mengembangkan perasaan sosial dan pergaulan sosial yang baik.
      4. Meningkatkan rasa percaya diri anggota kelompok.

    3. Kelebihan metode kerja kelompok
      • Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka.
      • Memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan kemampuan para siswa.
      • Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya dalam membahas suatu masalah.
      • Mengembangkan bakat kepemimpinan para siswa serta mengerjakan ketrampilan berdiskusi.

    4. Kelemahan metode kerja kelompok
      • Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan para siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.
      • Keberhasilan strategi ini tergantung kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri-sendiri.
      • Kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan daya guna mengajar yang berbeda pula.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan Metode Kelompok
      1. Membentuk Kelompok.
      2. Pendidik atau peserta didik, atau pendidik bersama peserta didik membentuk kelompok-kelompok belajar. Berapa jumlah kelompok dan berapa jumlah anggota setiap kelompok disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan yang hendak dicapai. Pada kesempatan ini pendidik menjelaskan tujuan, kebutuhan dan gambaran mengenai kegiatan-kegiatan yang harus dikerjakan oleh kelompok, sehingga peserta didik menyadari mengapa dan untuk apa dibentuk kelompok-kelompok.
      3. Pemberian tugas-tugas kepada kelompok.
      4. Pendidik memberikan tugas-tugas peserta didik menurut kelompoknya masing-masing. Pada kesempatan ini pendidik memberikan petunjuk-petunjuk mengenai pelaksanaan tugas dan berbagai aspek kegiatan yang mungkin dilakukan oleh setiap kelompok dalam rangka mewujudkan hasil kerja kelompok sebagai suatu kesatuan.
      5. Masing-masing kelompok mengerjakan tugas-tugasnya.
      6. Peserta didik-peserta didik bekerja sama secara gotong royongmenyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dalam rangka mewujudkan hasil kerja kelompoknya masing-masing. Pendidik mengawasi, mengarahkan atau mungkin juga menjawab beberapa pertanyaan dalam rangka menjamin ketertiban dan kelancaran kerja kelompok.
      7. Pendidik atau pendidik bersamaan peserta didik dilakukan penilaian, bukan saja terhadap hasil kerja yang dicapai kelompok, melainkan juga terhadap cara bekerja sama dan aspek-aspek lain sesuai dengan tujuannya dan meliputi penilaian secara individual, kelompok, maupun kelas sebagai suatu kesatuan.

  5. Metode Eksperimen
    1. Pengertian
    2. Metode eksperimen merupakan salah satu cara mengajar dimana seorang siswa diajak untuk beruji coba atau mengadakan pengamatan kemudian hasil pengamatan itu disampaikan dikelas dan di evaluasi oleh guru. Menurut Roestiyah (2001:80) Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru. Metode eksperimen menurut Djamarah (2002:95) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu. Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan eksperimn siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya. Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : i. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa. ii. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. iii. dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu. iv. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu. v. Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

    3. Kelebihan metode eksperimen
      • Siswa terlatih menggunakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah.
      • Mereka lebih aktif berfikir dan membuktikan sendiri kebenaran suatu teori.
      • Siswa dalam melaksanakan eksperimen selain memperoleh ilmu pengetahuan juga menemukan pengalaman praktis serta ketrampilan menggunakan alat-alat percobaan.
      • Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.
      • Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
      • Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.

    4. Kelemahan metode eksperimen
      • Seorang guru harus benar-benar menguasai materi yang diamati dan harus mampu memanage siswanya
      • Memerlukan waktu dan biaya yang sedikit lebih dibandingkan yang lain
      • Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi.
      • Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal.
      • Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.
      • Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar
      • jangkauan kemampuan atau pengendalian.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan Metode Eksperimen
      1. Memberi penjelasan secukupnya tentang apa yang harus dilakukan dalam eksperimen.
      2. Menentukan langkah-langkah pokok dalam membantu siswa dengan eksperimen.
      3. Sebelum eksperimen di laksanakan terlebih dahulu guru harus menetapkan:
        1. Alat-alat apa yang diperlukan
        2. Langkah-langkah apa yang harus ditempuh
        3. Hal-hal apa yang harus dicatat
        4. Variabel-variabel mana yang harus dikontrol
      4. Setelah eksperimen guru harus menentukan apakah follow-up (tindak lanjut) eksperimen contohnya :
        1. Mengumpulkan laporan mengenai eksperimen tersebut
        2. Mengadakan tanya jawab tentang proses
        3. Melaksanakan teks untuk menguji pengertian siswa

  6. Metode Inquiry
    1. Pengertian
    2. Metode inquiry adalah teknik pengajaran guru didepan kelas dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas.

    3. Kelebihan metode inquiry
      • Mendorong siswa untuk berfikir dan atas inisiatifnya sendiri, bersifat obyektif, jujur, dan terbuka.
      • Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
      • Dapat membentuk dan mengembangkan sel consept pada diri siswa.
      • Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi belajar yang baru.
      • Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.

    4. Kelemahan metode inquiry
      • Siswa perlu memerlukan waktu menggunakan daya otaknya untuk berfikir memperoleh pengertian tentang konsep.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan Metode Inquiry
    1. Mengidentivikasi dan merumuskan situasi dengan jelas yang berarti memfokuskan inquiry.
    2. Mengajukan pertanyaan tentang kenyataan (fakta).
    3. Merumuskan suatu hipotesis untuk menjawab pertanyaan pada langkah kedua.
    4. Mengumpulkan informasi yang relevan dengan hipotesis dan menguji tiap hipotesis dengan data yang telah dikumpulkan.
    5. Merumuskan suatu jawaban terhadap pertanyaan pokok dan menyatakan jawaban sebagai proposisi fakta (jawaban harus menyajikan sintesis tentang hipotesis yang diusulkan dan hasil-hasil pengujian hipotesis serta pengumpulan informasi).

  7. Metode Diskusi
    1. Pengertian
    2. Metode diskusi adalah suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.

    3. Kelebihan metode diskusi
      • Terjadi interaksi yang tinggi antara komunikator dan komunikasi
      • Dapat membantu siswa untuk berfikir lebih kritis
      • Memotivasi atau memberi stimulasi kepada siswa agar berfikir kritis, mengeluarkan pendapatnya, serta menyumbangkan pikiran-pikirannya
      • Metode diskusi melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar.
      • Setiap siswa dapat menguji pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing.
      • Metode diskusi dapat menumbuh dan mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah.
      • Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan (kemampuan) diri sendiri.
      • Metode diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.

    4. Kelemahan metode diskusi
      • Alokasi waktu yang sulit karena banyak memakan waktu
      • Tidak semua argument bias dilayani atau di ajukan untuk dijawab
      • Suatu diskusi tidak dapat diramalkan sebelumnya mengenai bagaimana hasil sebab tergantung kepada kepemimpinan siswa dan partisipasi anggota-anggotanya.
      • Suatu diskusi memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu yang belum pernah dipelajari sebelumnya.
      • Jalannya diskusi dapat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yang menonjol.
      • Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi, akan tetapi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.
      • Diskusi yang mendalam memerlukan waktu yang banyak. Siswa tidak boleh merasa dikejar-kejar waktu.
      • Perasaan dibatasi waktu menimbulkan kedangkalan dalam diskusi sehingga hasilnya tidak bermanfaat.
      • Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakan pikiran mereka maka biasanya sulit untuk membatasi pokok masalahnya.
      • Sering terjadi dalam diskusi murid kurang berani mengemukakan pendapatnya.
      • Jumlah siswa di dalam kelas yang terlalu besar akan mempengaruhi setiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
    6. Agar penggunan diskusi berhasil dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah - langkah sebagai berikut :
      1. Langkah Persiapan
      2. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam persiapan diskusi di antaranya:
        • Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat umum maupun tujuan khusus
        • Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
        • Menetapkan masalah yang akan dibahas
        • Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya, petugas - petugas diskusi seperti moderator, notulis, dan tim perumus, manakala diperlukan
      3. Pelaksanaan Diskusi
      4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi adalah :
        • Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat memengaruhi kelancaran diskusi
        • Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi, misalnya menyajikan tujuan yang ingin dicapai serta aturan - aturan diskusi sesuai dengan jenis diskusi yang akan dilaksanakan
        • Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan diskusi hendaklah memerhatikan suasana atau iklim belajar yang menyenangkan, misalnya tidak tegang, tidak saling menyudutkan, dan lain sebagainya
        • Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide - idenya
        • Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas. Hal ini sangat penting, sebab tanpa pengendalian biasanya arah pembahasan menjadi melebar dan tidak fokus
      5. Menutup Diskusi
      6. Akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi hendaklah dilakuan hal - hal sebagai berikut :
        • Membuat pokok - pokok pembahasan sebagai kesimpulan sesuai dengan hasil diskusi
        • Mereview jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya

  8. Metode Problem Solving
    1. Pengertian
    2. Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.

    3. Kelebihan metode problem solving
      • Masing-masing siswa diberi kesempatan yang sama dalam mengeluarkan pendapatnya sehingga para siswa merasa lebih dihargai dan yang nantinya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
      • Para siswa akan diajak untuk lebih menghargai orang lain.
      • Untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan lisannya.

    4. Kelemahan metode problem solving
      • Karena tidak melihat kualitas pendapat yang disampaikan terkadang penguasaan materi sering diabaikan.
      • Metode ini sering kali menyulitkan mereka yang sungkan mengutarakan pendapat secara lisan.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Persiapan
        1. Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu disiapkan oleh guru.
        2. Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.
        3. Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara pelaksanaannya.
        4. Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat merangsang peserta didik untuk berpikir.
        5. Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan kemampuan peserta didik
      2. Pelaksanaan
        1. Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang dipecahkan.
        2. Guru meminta kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.
        3. Peserta didik dapat bekerja secara individual atau berkelompok.
        4. Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan mungkin pula tidak.
        5. Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik kemudian didiskusikan mengapa pemecahannya tak ditemui.
        6. Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
        7. Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
        8. Membuat kesimpulan.

  9. Metode Simulasi
    1. Pengertian
    2. Metode simulasi merupakan cara mengajar dimana menggunakan tingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksudkan dengan tujuan agar orang dapat menghindari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu dengan kata lain siswa memegang peranaan sebagai orang lain.

    3. Kelebihan metode simulasi
      • Dapat menyenangkan siswa
      • Menggalak guru untuk mengembangkan kreatifitas siswa
      • Eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya
      • Mengurangi hal-hal yang verbalistik
      • Menumbuhkan cara berfikir yang kritis

    4. Kelemahan metode simulasi
      • Efektifitas dalam memajukan belajar siswa belum dapat dilaporkan oleh riset
      • Terlalu mahal biayanya
      • Banyak orang meragukan hasilnnya karena sering tidak diikutsertakan elemen-elemen penting
      • Menghendaki pengelompokan yang fleksibel
      • Menghendaki banyak imajinasi dari guru dan siswa

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Memberi petunjuk pelaksanaan simulasi dari materi yang akan dipelajari.
      2. Membagikan alat dan bahan simulasi. Langkah berikutnya, guru mendistribusikan alat dan bahan simulasi yang dibutuhkan kelompok.
      3. Melaksanakan simulasi materi. Simulasi dengan pendekatan kelompok lebih rumit dan wasting time tapi pendekatan ini mampu menciptakan situasi yang mendekati keadaan sebenarnya.

  10. Metode Penemuan ( Discovery )
    1. Pengertian
    2. Metode penemuan merukan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu proses atau prinsip-prinsip.

      Ada beberapa konsep tentang metode penemuan (discovery methods) yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain:

      1. Metode discovery adalah metode yang menganggap siswa sebagai subyek sekaligus obyek pembelajaran yang memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya (Rohani, 2004).
      2. Metode discovery merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung siswa dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar (Mulyasa, 2005) .
      3. Sund (dalam Suryosubroto, 2002) mengemukakan bahwa metode discovery adalah proses mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya, dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Metode discovery diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
      4. Metode discovery adalah metode mengajar yang menggunakan teknik penemuan dan merupakan proses mental (misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya) dimana siswa menyesuaikan suatu konsep atau prinsip. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi (Roestiyah, 2001).

    3. Kelebihan metode penemuan
      • Dapat membangkitkan kegairahan belajar pada diri siswa
      • Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kampuan masing-masing
      • Teknik ini mampu membantu siswa mengembangkan, memperbanyak kesiapan serta penguasaan ketrampilan dalam proses kognitif atau pengarahan siswa
      • Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sebagai sangat pribadi atau individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut

    4. Kelemahan metode penemuan
      • Ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu meningkatkan proses pengertian saja
      • Teknik ini tidak memberikan kesempatan berfikir secara kreatif
      • Para siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental
      • Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini kurang berhasil
      • Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional akan kecewa bila diganti dengan teknik penemuan

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Merumuskan masalah dengan kegiatan-kegiatan berikut.
        1. Menyadari adanya suatu masalah.
        2. Menjadikan masalah tersebut sebagai suatu jawaban yang bermakna atau memiliki makna tertentu.
        3. Menyediakan masalah tersebut sebagai sesuatu yang mengarahkan pemecahannya.
      2. Mengembangkan suatu jawaban tentatif dalam perumusan masalah atau hipotesis, dengan kegiatan-kegiatan berikut.
        1. Menentukan pengajaran dan pengklasifikasian.
        2. Menentukan hubungan antara berbagai kemungkinan jawaban satu dengan yang lainnya
        3. Menyusun pernyataan hipotesis.
      3. Menguji jawaban tentatif dengan kegiatan-kegiatan berikut.
        1. Merakit buku-buku dengan cara mengidentifikasi bukti-bukti yang dibentukkan, dengan mengklasifikasikannya.
        2. Menyusun bukti-bukti yang ada, dengan cara menerjemahkannya, menafsirkan, dengan mengklasifikasikannya.
        3. Menganalisis bukti-bukti dengan cara mencari hubungan yang satu dengan yang lainnya.
      4. Mengembangkan suatu kesempatan dengan kegiatan-kegiatan berikut.
        1. Merumuskan pola-pola dengan hubungan yang bermakna.
        2. Merumuskan kesimpulan secara jelas.
      5. Melaksanakan kesimpulan data atau pengalaman-pengalaman melalui kegiatan-kegiatan berikut :
        1. Menguji kesimpulan dengan bukti-bukti yang baru.

  11. Metode Latihan/Drill
    1. Pengertian
    2. Menurut Buku Nana Sudjana metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama Metode latihan merupakan metode mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan latihan agar siswa memiliki ketegasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.

      Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut :

      1. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
      2. Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
      3. Teknik Discovery (penemuan)
      4. Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi.
      5. Teknik Micro Teaching
      6. Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru.
      7. Teknik Modul Belajar
      8. Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan (kompetensi).
      9. Teknik Belajar Mandiri
      10. Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

    3. Kelebihan metode latihan
      • Ketegasan dan ketrampilan siswa meningkat atau lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari
      • Seorang siswa benar-benar memahami apa yang disampaikan
      • Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh akan lebih kokoh tertanam dalam daya ingatan murid, karena seluruh pikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan.
      • Anak didik akan dapat mempergunakan daya fikirannya dengan bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak didik akan menjadi lebih teratur, teliti dan mendorong daya ingatnya.
      • Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru, memungkinkan murid untuk melakukan perbaikan kesalahan saat itu juga. Hal ini dapat menghemat waktu belajar disamping itu juga murid langsung mengetahui prestasinya.

    4. Kelemahan metode latihan
      • Dalam latihan sering terjadi cara-cara atau gerak yang tidak berubah sehingga menghambat bakat dan inisiatif siswa
      • Sifat atau cara latihan kaku atau tidak fleksibel maka akan mengakibatkan penguasaan ketrampilan melalui inisiatif individu tidak akan dicapai

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Tahap Persiapan
      2. Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain :
        • Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
        • Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan
        • Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan
        • Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh
      3. Tahap Pelaksanaan
        1. Langkah pembukaan
        2. Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru diantaranya mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan yang akan dilakukan.
        3. Langkah pelaksanaan
          • Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu
          • Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan
          • Yakinkan bahwa semua siswa tertarik untuk ikut
          • Berikan kesempatan \kepada siswa untuk terus berlatih
        4. Langkah mengakhiri
        5. Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan motivasi untuk siswa terus melakukan latihan secara berkesinambungan sehingga latihan yang diberikan dapat semakin melekat, terampil dan terbiasa.
      4. Penutup
        1. Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang dilaksanakan oleh siswa.
        2. Memberikan latihan penenangan.

  12. Metode Mind Mapping
    1. Pengertian
    2. Menurut Porter & Hernacki (2008:152-159) : Mind Mappingjuga dapat disebut dengan peta pemikiran. Mind Mapping juga merupakan metode mencatat secara menyeluruh dalam satu halaman. Mind Mapping menggunakan pengingatpengingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta pikiran atau Mind Mapping pada dasarnya menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk kesan pada otak.

      Metode Mind Mapping adalah metode baru untuk mencatat yang bekerjanya disesuaikan dengan bekerjanya dua belah otak (otak kiri dan otak kanan). Metode ini mengajarkan untuk mencatat tidak hanya menggunakan gambar atau warna. Tony Buzan mengemukakan “your brain is like a sleeping giant,hal itu disebabkan 99% kehebatan otak manusia belum dimanfaatkan secara optimal.”

      Mind Mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran Mind Mapping juga merupakan peta rute yang memudahkan ingatan dan memungkinkan untuk menyusun fakta dan pikiran, dengan demikian cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik mencatat tradisional. Selain itu Mind Mapping adalah sistem penyimpanan, penarikan data dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa dalam otak manusia yang menajubkan.

      Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual.

      Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang.Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya, memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

      Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababan, presentasi hasil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

    3. Kelebihan metode mind mapping
      • Permasalah yang disajikan terbuka
      • Siswa berkelompok untuk menanggapi
      • Dapat malatih siswa untuk saling bekerja sama dalam diskusi
      • Sangat cocok untuk mengulang kembali pengetahuan awal siswa
      • Dapat mengemukakan pendapat secara bebas.
      • Catatan lebih padat dan jelas
      • Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan.
      • Catatan lebih terfokus pada inti materi
      • Mudah melihat gambaran keseluruhan
      • Membantu Otak untuk : mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
      • Memudahkan penambahan informasi baru
      • Pengkajian ulang bisa lebih cepat
      • Setiap peta bersifat unik

    4. Kelemahan metode mind mapping
      • Banyak membutuhkan waktu
      • Sulit untuk mengalokasikan waktu
      • Tuntutan bagi siswa terlalu membebani
      • Hanya siswa yang aktif yang terlibat.
      • Tidak sepenuhnya murid yang belajar
      • Mind map siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind map siswa.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Overview:
      2. Tinjauan Menyeluruh terhadap suatu topik pada saat proses pembelajaran baru dimulai. Hal ini bertujuan untuk memberi gambaran umum kepada siswa tentang topik yang akan dipelajari. Khusus untuk pertemuan pertama pada setiap awal Semester, Overview dapat diisi dengan kegiatan untuk membuat Master Mind Map® yang merupakan rangkuman dari seluruh topik yang akan diajarkan selamasatu Semester yang biasanya sudah ada dalam Silabus. Dengan demikian, sejak awal siswa sudah mengetahui topik apa saja yang akan dipelajarinya sehingga membuka peluang bagi siswa yang aktif untuk mempelajarinya lebih dahulu di rumah atau di perpustakaan.
      3. Preview:
      4. Tinjauan Awal merupakan lanjutan dari Overview sehingga gambaran umum yang diberikan setingkat lebih detail daripada Overview dan dapat berupa penjabaran lebih lanjut dari Silabus. Dengan demikian, siswa diharapkan telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai sub-topik dari bahan sebelum pembahasan yang lebih detail dimulai. Khusus untuk bahan yang sangat sederhana, langkah Previewdapat dilewati sehingga langsung masuk ke langkah Inview.
      5. Inview
      6. Tinjauan Mendalam yang merupakan inti dari suatu proses pembelajaran, di mana suatu topik akan dibahas secara detail, terperinci dan mendalam. Selama Inviewini, siswa diharapkan dapat mencatat informasi, konsep atau rumus penting beserta grafik, daftar atau diagram untuk membantu siswa dalam memahami dan menguasai bahan yang diajarkan.
      7. Review
      8. Tinjauan Ulang dilakukan menjelang berakhirnya jam pelajaran dan berupa ringkasan dari bahan yang telah diajarkan serta ditekankan pada informasi, konsep atau rumus penting yang harus diingat atau dikuasai oleh siswa. Hal ini akan dapat membantu siswa untuk fokus dalam mempelajari-ulang seluruh bahan yang diajarkan di sekolah pada saat di rumah. Review dapat juga dilakukan saat pelajaran akan dimulai pada pertemuan berikutnya untuk membantu siswa mengingatkan kembali bahan yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya.

  13. Metode Unit Teaching
    1. Pengertian
    2. Metode unit teaching merupakan metode mengajar yang memberikan kesempatan pada siswa secara aktif dan guru dapat mengenal dan menguasai belajar secara unit.

    3. Kelebihan metode unit teaching
      • Siswa dapat menggunakan sumber-sumber materi pelajaran secara luas.
      • Siswa dapat belajar keseluruhan sesuai bakat.
      • Suasana kelas lebih demokratis.

    4. Kelemahan metode unit teaching
      • Dalam melaksanakan unit perlu keahlian dan ketekunan.
      • Perhatian guru harus lebih banyak dicurahkan pada bimbingan kerja siswa.
      • Perencanaan unit yang tidak mudah.
      • Memerlukan ahli yang betul-betul menguasai masalah karena semua masalah yang belum tentu dapat dijadikan unit.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Kegiatan Persiapan
        1. Guru menjelaskan kepada siswa tentang bagaimana cara melaksanakan pembelajaran dengan metode unit.
        2. Guru bersama siswa menetapkan pokok masalah yang akan dijadikan unit. Pokok masalah itu hendaknya sesuai dengan minat dan latar belakang siswa, sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan siswa, dan sesuai dengan ketersediaan sumber baik buku, para ahli maupun instansi.
        3. Guru dan siswa menetapkan aspek-aspek pokok masalah dan mata pelajaran- mata pelajaran yang ikut serta pada pemecahan pokok masalah tersebut.
        4. Guru bersama siswa menetapkan tujuan instruksional khusus (TIK) untuk setiap aspek masalah.
        5. Guru dan siswa menetapkan kelompok kelompok kerja dan tugas- tugasnya. Biasanya jumlah kelompok disesuaikan dengan banyaknya aspek masalah/unit.
        6. Guru dan siswa menetapkan organisasi kelas : ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, seksi-seksi, dan sebagainya. Organisasi ini yang akan mengelola penyelesaian kegiatan unit.
        7. Guru dan siswa menetapkan jadwal kegiatan, sasaran, target, dan tata tertib yang harus dipatuhi selama pembelajaran unit ini.
      2. Kegiatan Pelaksanaan
        1. Kegiatan Awal. Guru menanyakan materi pelajaran sebelumnya. Guru berceritera tentang kehidupan di masyarakat yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan melalui pembelajaran unit. Guru mengingatkan kembali tentang TIK yang telah dirumuskan dan bagaimana penyelesaiannya oleh kelompok.
        2. Kegiatan Inti Para siswa mengatur tempat mereka belajar / bekerja, apakah tempat belajar itu di dalam kelas maupun di luar kelas. Mempelajari sesuatu sesuai dengan tugas masing-masing, misalnya : melakukan percobaan-percobaan, mengerjakan soal soal, menggambar, mempelajari nyanyian, mengunjungi tempat- tempat yang telah direncanakan, mengikuti ceramah dari nara sumber, dan sebagainya.
      3. Kegiatan Penutup
      4. Guru meminta siswa merangkum hasil belajar melalui kegiatan dalam metode pembelajaran unit. Melakukan evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pelaksanaan pembelajaran melalui metode pembelajaran unit. Tindak lanjut, yaitu menjelaskan kembali materi pelajaran yang belum dikuasai siswa dan menugasi untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran melalui Penugasan Rumah (PR).

  14. Metode Kerja Lapangan
    1. Pengertian
    2. Metode kerja lapangan merupakan metode mengajar dengan mengajak siswa kedalam suatu tempat diluar sekolah yang bertujuan tidak hanya sekedar observasi atau peninjauan saja, tetapi langsung terjun turut aktif ke lapangan kerja agar siswa dapat menghayati sendiri serta bekerja sendiri didalam pekerjaan yang ada dalam masyarakat.

    3. Kelebihan metode kerja lapangan
      • Siswa mendapat kesempatan untuk langsung aktif bekerja dilapangan sehingga memperoleh pengalaman langsung dalam bekerja.
      • Siswa menemukan pengertian pemahaman dari pekerjaan itu mengenai kebaikan maupun kekurangannya.

    4. Kelemahan metode kerja lapangan
      • Waktu terbatas tidak memungkinkan memperoleh pengalaman yang mendalam dan penguasaan pengetahuan yang terbatas.
      • Untuk kerja lapangan perlu biaya yang banyak. Tempat praktek yang jauh dari sekolah shingga guru perlu meninjau dan mepersiapkan terlebih dahulu.
      • Tidak tersedianya trainer guru/pelatih yang ahli.

    5. Prosedur pelaksanaan/Langkah-langkah pelaksanaan
      1. Merumuskan tujuan dari kegiatan yang akan dilakukan.
      2. Menentukan jenis kegiatan yang akan dilakukan.
      3. Menentukan tempat pelaksanaan kegiatan.
      4. Menentukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan kegiatan.
      5. Mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan. Misalkan alat ukur untuk mengukur lebar jalan.
      6. Pembagian kelompok dan tugas yang jelas.
      7. Pembagian tempat pelaksanaan kegiatan kepada masing – masing kelompok.
      8. Pelaksanaan kegiatan oleh masing – masing kelompok sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang didapat.
      9. Pembuatan laporan dari kegiatan yang telah dilaksanakan.

  15. Metoda Tutorial
    1. Pengertian
    2. Metode tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan/dilakukan oleh guru kepada siswa baik secara perorangan atau kelompok kecil siswa. Disamping metoda yang lain, dalam pembelajaran Pendidikan Teknologi Dasar, metoda ini banyak sekali digunakan, khususnya pada saat siswa sudah terlibat dalam kerja kelompok.

      Menurut Gintings (2008: 79-80) metode ini sangat cocok diterapkan dalam model pembelajaran mandiri seperti pada pembelajaran jarak jauh di mana siswa terlebih dahulu diberi modul untuk dipelajari.

    3. Kelebihan Metode Tutorial
      1. Siswa memperoleh pelayanan pembelajaran secara individual sehingga permasalahan spesifik yang dihadapinya dapat dilayani secara spesifik pula.
      2. Seorang siswa dapat belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampuannya sendiri tanpa harus dipengaruhi oleh kecepatan bel;ajar siswa yang lain.

    4. Kelemahan Metode Tutorial
      1. Sulit dilaksanakan pembelajaran klasikal karena guru harus melayani siswa dalam jumlah yang banyak.
      2. Jika tetap dilaksanakan, diperlukan teknik mengajar dalam tim atau “team teaching” dengan pembagian tugas di antara anggota tim.
      3. Apabila tutorial ini dilaksanakan, untuk melayani siswa dalam jumlah yang banyak, diperlukan kesabaran dan keluasan pemahamann guru tentang materi pembelajaran.

    5. Langkah-langkah Metoda Pembelajaran Tutorial
      1. Langkah Perencanaan
        • Mempelajari modul dan mengidentifikasi bagian-bagian yang sulit
        • Menyusun strategi bimbingan
      2. Langkah Persiapan
        • Menyiapkan bahan ajar tambahan
        • Menyiapkan soal-soal sederhana sebagai jembatan untuk menyelesaikan soal-soal yang sulit
      3. Langkah Pelaksanaan
        • Mengidentifikasi siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami modul yang telah diberikan berikut bagian-bagian yang sulit dipahami
        • Laksanakan tutorial dengan menggunakan langkah-langkah yang telah dipersiapkan lebih dahulu
      4. Langkah Evaluasi dan Penutup
        • Melakukan tanya jawab ntuk meyakinkan bahwa siswa yang bersangkutan telah dapat mengatasi kesulitan belajarnya dan memahami materi pembelajaran yang dipelajari
        • Memberikan tugas mandiri, termasuk mempelajari tugas tambahan dengan tujuan memantaapkan dan memperluas pemahaman siswa yang bersangkutan tentang materi yang dipelajari.

PRESENTING AND EXPLAINING


  1. Konsep dasar Pengajaran Presentasi


Model Presentasi merupakan adaptasi dari model Advance Organizer  yang mengharuskan guru untuk mempersiapkannya sebelum  mempresentasikan informasi baru dan secara khusus  memperkuat dan memperluas  pemikiran siswa selama dan setelah presentasi. Pendekatan ini banyak dipilih oleh guru karena cocok dengan pengetahuan sekarang tentang cara individu memperoleh, memproses dan menyimpan informasi baru; dan berbagai komponen model ini telah dikaji dengan seksama selama empat puluh tahun terakhir sehingga memberikan dasar pengetahuan yang substansial, meskipun tidak selalu konsisten. Secara singkat hasil belajar model presentasi  cukup jelas dan tidak rumit dalam membantu siswa memperoleh, mengasimilasi, menyimpan informasi baru; memperluas struktur konseptual dan kebiasaan mendengarkan dan memikirkan informasi.
Presentasi merupakan model yang berfokus pada guru yang terdiri atas empat fase pokok:

  1. Alurnya mulai dari usaha awal guru untuk mengklarisifikasi tujuan pelajaran dan mempersiapkan siswa untuk belajar,
  2. Penyajian pengorganisasian awal
  3. Penyajian informasi baru
  4. Interaksi yang bertujuan memeriksa pemahaman siswa akan informasi baru dan memperluas dan menguatkan keterampilan berpikir mereka.

BDukungan teoritis dan Empiris
            Terdapat beberapa perangkat gagasan yang saling melengkapi yang memberikan dukungan teoritis dan empiris untuk pengajaran presentasi. Hal tersebut meliputi :

  1. Konsep struktur pengetahuan
  2. Psikologi pembelajaran lisan yang bermakna
  3. Psikologi kognitif dan pemprosesan informasi
Dukungan Empiris
Dasar pengetahuan mengenai menyajikan dan menjelaskan informasi kepada pembelajaran telah dikembangakan oleh para peneliti yang bekerja diberbagai bidang, khususnya psikologi kognitif dan pemrosesan informasi. Penelitian lain dating dari kajian mengenai pengajaran dan telah berfokus pada topic-topik seperti membuka pelajaran, penggunaan pengetahuan awal dan pengorganisasi awal. Pengetahuan awal telah banyak dilakukan penelitian tentang pengaruh pengetahuan awal terhadap belajar membaca, belajar menggunakan tentang pengaruh pengetahuan awal terhadap belajar membaca, belajar menggunakan informasi baru, dan belajar menulis. Secara umum, penelitian ini menunjukkan peninggnya pengetahuan awal siswa bagi pembelajaran informasi baru dan pemrosesan keterampilan baru.
Penggunaan pengorganisasi awal
            Guru menggunakan pengorganisasi awal untuk membantu membuat informasi lebih bermakna bagi siswa dengan menghubungkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru.

C. Perencanaan Pelajaran Presentasi
    
     1. Memilih tujuan dan isi
Tujuan pembelajaran presentasi diutamakan untuk mendapatkan pengetahuan deklaratif. Contoh siswa mampu mendifinisikan arti fotosintesis, mampu menyebutkan aturan-aturan dasar permainan sepak bola, dll. Pemilihan konten presentasi dapat menggunakan prinsip power yang menyatakan  hanya konsep penting dan paling kuat yang seharusnya diajarkan dan bukan yang menarik tapi tidak penting bagi mata pelajaran. Sedangkan menurut prinsip ekonomi merekomendasikan bahwa guru menghindari kekacauan verbal dan membatasi presentasi dengan jumlah informasi minimum. Peta konsep juga bermanfaat bagi seorang guru  untuk membantu menyampaikan jenis ide dan bagi siswa  memberikan gambaran untuk memahami hubungan diantara ide-ide.
     2. Mendiaknosa pengetahuan siswa sebelumnya
Informasi yang diberikan dalam presentasi didasarkan pada perkiraan guru tentang  struktur kognitif yang sudah ada dan pengetahuan yang  dimiliki siswa tentang subyek tertentu. Tidak ada aturan yang tegas atau formula yang mudah yang dapat dilakukan guru untuk memeriksa pengetahuan siswa sebelumnya. Guru dapat menggunakan asesmen untuk mengetahui perkembangan siswa. Sedangkan dalam pembelajaran guru dapat menggunakan induksi atau establishing set untuk memeriksa pengetahuan siswa.  Siswa memiliki prior knowledge, perkembangan intelektual, gaya belajar dan intelegensia yang berbeda sehingga guru perlu menyesuaikan presentasi dan penjelasan agar sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang siswa antara lain dengan penggunaan gambar dan ilustrasi, isyarat dan contoh.
     3. Memilih advance organizer yang tepat
Advance organizer merupakan scaffolding intelektual, dan membantu siswa melihat gambaran umum dari materi yang akan dipresentasikan. Berikut ini merupakan contohadvance organizer: “ saya akan memberikan informasi tentang jenis-jenis makanan yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi dengan baik. Sebelum itu saya ingin memberi ide kepada kalian  yang akan membantu  memahami berbagai makanan yang sudah kalian makan dengan mengatakan  bahwa makanan tersebut dapat diklasifikasikan  menjadi lima golongan utama yaitu lemak, karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Makanan tersebut  berisi unsur-unsur  tertentu  seperti  karbon dan nitrogen. Makanan yang kita makan juga mengandung unsur-unsur yang terdapat dalam golongan makanan tersebut. Sekarang saya akan membicarakan diet seimbang yang dibutuhkan tubuh. Saya ingin kalian memperhatikan tarmasuk golongan manakah makanan yang kita makan?”
     4. Merencanakan penggunaan waktu dan ruang
Hal-hal yang harus  diperhatikan  guru yaitu memastikan waktu dialokasikan sesuai dengan kemampuan dan sikap siswa di kelas dan memotivasi siswa agar mereka tetap memperhatikan selama pembelajaran. Selain itu guru juga mengelola ruang, penataan ruang tradisional paling cocok dengan kelas yang menggunakan papan tulis, OHP atau proyektor.

D. Melaksanaan Presentasi
     1. Menyampaikan Tujuan Pembelajaran dan menyiapkan siswa
Tujuan pembelajaran dapat disampaikan dipapan tulis, newsprint chart atau display. Menyiapkan siswa untuk belajar dapat dilakukan dengan memberikan establishing set dan isyarat (cues) kepada siswa
     2. Mempresentasikan advance organizer
Guru memastikan advance organizer dilakukan terpisah dari kegiatan introduksi dan presentasi materi. Advance organizer dipresentasikan kepada siswa menggunakan format visual tertentu seperti OHP atau power point image. Siswa harus memahami advance organizer  sehingga harus diajarkan kepada siswa.
     3. Mempresentasikan Materi belajar
Menyampaikan materi dilaksanakan setelah direncanakan dan dipresentasikan dengan cara efektif, memperhatikan kejelasan, explaining links, contoh-contoh, teknik rule-explaining rule, penggunaan transisi dan antusiasme.
     4. Memantau dan memeriksa pemahaman
Untuk memantau pemahaman siswa guru dapat melakukan metode informal selama presentasi misalnya isyarat verbal dan non verbal misalnya siswa bingung, diam dan kernyitan kening sebagai tanda siswa tidak paham, sedangkan mengangguk,  tersenyum dan mata melebar takjub merupakan tanda pemahaman sedang terjadi. Secara formal guru dapat  meminta respon siswa tentang materi yang baru disampaikan.

E. Mengelola Lingkungan Belajar
Pada awal pelajaran  guru berperan sebagai presenter aktif dan berharap siswa menjadi pendengar aktif. Kesuksesan model ini bergantung dari motivasi siswa untuk melihat serta mendengarkan presentasi. Model ini membutuhkan aturan yang mengatur pembicaraan siswa, pacing (langkah) yang baik dan metode untuk mengatur perilaku siswa pada saat presentasi, misalnya siswa yang melakukan kegiatan lain atau berbicara dengan teman sebelahnya.

F. Asesmen dan Evaluasi
Model presentasi sangat cocok untuk menyampaikan informasi baru kepada siswa dan membantu menyimpan informasi tersebut dalam memori mereka. Sehingga strategi evaluasi yang tepat adalah menguji perolehan dan retensi pengetahuan siswa. Faktor yang perlu diperhatikan dalam menguji pengetahuan siswa adalah menguji semua tingkat pengetahuan dan bukan hanya sekedar mengingat informasi, guru juga seharusnya mengkomunikasikan kepada siswa apa yang mau diujikan dan lakukan pengujian segera setelah selesai topik jangan menunggu mid atau semester.


Selasa, 13 Mei 2014

Model-Model Pembelajaran

Model Pembelajaran
  1. Pengertian Model Pembelajaran
  2. Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
    mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

    Model Pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang
    menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang : 2005)

    Istilah “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi
    pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992)
    Lebih lanjut Ismail (2003) menyatakan istilah Model
    pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
    1. rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
    2. tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
    3. tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
    4. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

    Model pembelajaran merupakan salah satu komponen utama
    dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM).

    Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut
    pendapat para tokoh pendidikan antara lain:
    1. Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
    2. Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
    3. Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.

  3. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
    1. Model Pembelajaran Kooperatif
    2. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai
      makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

      Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan
      pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

      Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, diantaranya:

      1. Jigsaw
      2. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw
        adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).

      3. STAD (Student Teams Achievement Division)
      4. Model STAD adalah salah satu model belajar kooperatif
        yang paling sederhana, Sehingga model belajar tersebut dapat digunakan oleh guru-guru yang baru memulai menggunakan model belajar kooperatif. Slavin (1994) menyatakan bahwa dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu, berimbang menurut jenis kelamin. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, semua siswa diberi tes tentang materi itu. Pada saat diadakan tes mereka tidak boleh saling membantu. Skor siswa dibandingkan antara skor sebelumnya dengan skor yang baru diperoleh. Skor tiap anggota kelompok ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok dan kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan.

      5. TAI (Team Assisted Individualy)
      6. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran
        kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

        Model pembelajaran TAI memiliki 8 (delapan) komponen
        yaitu sebagai berikut (Slavin, 1995: 101–104).
        1. Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 5 siswa.
        2. Placement Test yakni pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
        3. Curriculum Materials yaitu siswa bekerja secara individu tentang materi kurikulum penutup penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pecahan, perbandingan, persen, statistika, dan aljabar.
        4. Team Study yaitu tahapan tindakan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya.
        5. Team Scores and Team Recognition yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan pemberian kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
        6. Teaching Group yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
        7. Fact Test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
        8. Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

      7. GI (Group Investigation)
      8. Group Investigationn merupakan salah satu bentuk
        model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

        Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah:
        lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu. Selanjutnya Thelen (Joyce dan Weil, 1980:332) mengemukakan tiga konsep utama dalam pembelajaran GI, yaitu: a. Inquiry b. Knowledge c. The dynamics of the learning group

      9. TPS (Think Pairs Share)
      10. Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik
        sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).

        Arends ( Komalasari, 2010: 84) mengemukakan bahwa:
        “Model pembelajaran Think Pair and Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair and Share dapat memberi murid lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu.”

        Bertitik tolak dari pengertian di atas, maka dapat
        disimpulkan bahwa ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Think Pair and Share antara lain; berfikir ( thinking ), berpasangan ( pairing ), dan berbagi ( share ).

      11. TGT (team Game Tournament)
      12. Aktivitas pembelajaran kooperatif model TGT ini
        sebenarnya merupakan pengembangan dari STAD. Tujuan utamanya adalah kerjasama antar sesama anggota kelompok dalam suatu tim sebagai persiapan menghadapi turnamen yang dipersiapkan antar kelompok dengan pola permainan yang dirancang oleh guru. Dalam turnamen itu, siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. Pertanggungjawaban individu dalam suatu tim tetap menjadi fokus utama sebagai dukungan dari anggota terhadap keberhasilan kelompok. Bila dibandingkan dengan STAD, terdapat perbedaan pada langkah ketiga yaitu kuis diganti dengan turnamen antar kelompok, jenis turnamen kompetisinya diatur oleh guru menurut kemampuan tim dan hasil undian.

      13. CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition)
      14. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading
        andComposition-CIRC (Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu.

        Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu
        setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan.

    3. Model Pembelajaran Kontekstual(CTL)
    4. Menurut Nur Hadi CTL adalah konsep belajar yang
      mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.

      Menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan yang
      bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.

      Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas
      dapat kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

      komponen-komponen model pembelajaran CTL ini antara lain:

      1. Kontruktivisme
      2. Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran ini harus dikemas menjadi proses”mengkontruksi”bukan menerima pengetahuan.
      3. Inquiry
      4. Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasrkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Merupakan proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan ketrampilan berfikir kritis. Langkah-langkah dalam proses inquiry antara lain : a. Merumuskan masalah b. Mengajukan hipotesis c. Mengumpilkan data d. Menuji hipotesis e. Membuat kesimpulan
      5. Bertanya
      6. Bertanya dalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan .
      7. Masyarakat belajar
      8. Menurut Vygotsky dalam masyarakat belajar ini pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.
      9. Pemodelan
      10. Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sebagai sustu contoh yang dapat ditiru oleh siswa.
      11. Refleksi
      12. Refleksi adalah proses pengengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengerutkan dan mengevalusi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untuk mendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bersifat positif maupun bernilai negative.
      13. Penilaian nyata
      14. Penilaian nyata adalah proses yang dilukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa.

    5. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
    6. Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak
      zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

      Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah
      dikemukakan oleh Arends, diantaranya adalah :
      1. Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
      2. Fokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
      3. Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
      4. Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
      5. Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.

      Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah

      1. Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
      2. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
      3. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

    7. Model Pembelajaran Langsung (DI)
    8. Model pembelajaran langsung atau yang dikenal dengan
      direct instruction ini adalah sebuah model pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan konsep dan juga perubahan perilaku dengan melakukan pendekatan secara deduktif.

      Di sini peran dari guru memang sangat penting sebagai
      penyampai informasi, sehingga sudah seyogyanya seorang guru memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada seperti tape recorder, film, peragaan, gambar dan sebagainya. Adapun informasi yang disampaikan bisa berupa pengetahuan yang sifatnya prosedural maupun pengetahuan deklaratif. Meskipun demikian kekurangannya yaitu model pembelajaran seperti ini tidak bisa digunakan setiap waktu serta tidak dapat diterapkan di semua tujuan pembelajaran.

      Ciri-Ciri/Karakteristik Direct Instruction (Model
      Pembelajaran Langsung)
      1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar.
      2. Adanya sintaks atau pola keseluruhan kegiatan pembelajaran.
      3. Adanya sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan baik.

    9. Model Pembelajaran Terpadu
    10. Pembelajaran terpadu merupakan suatu pembelajaran
      yang mengkaitkan tema-tema yang over laping utnuk dikemas menjadi satu tema besar yang kemudian dibahas dalam suatu pembelajaran. Model pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran dengan pendekatan yang menekankan pada aspek-aspek bersifat umum seperti kemampuan berpikir, kemampuan sosial, sikap dan perilaku. Menurut Fogarty, (dalam Prabowo, 2000 ) mengemukakan bahwa, ada sepuluh model pembelajaran terpadu. Kesepuluh model tersebut adalah berikut ini : 1. the fragmented model (model tergambarkan) 2. the connected model (model terhubung) 3. the nested model (model tersarang) 4. the squenced model (model terurut) 5. the shared model (model terbagi) 6. the webbed model (model terjaring) 7. the threaded model (model tertali) 8. the integrated model ( model terpadu) 9. the immersed model (model terbenam) 10.the networked model (model jaringan)

    11. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
    12. Model pembelajaran MMP merupakan suatu program
      yang didesain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa. Latihan-latihan yang dimaksud adalah lembar tugas proyek.

      Prinsip – prinsip atau unsur – unsur dalam model pembelajaran Missouri Mathematics Project ada 2 yaitu Belajar kooperatif dan Kemandirian Siswa.

      1. Belajar Kooperatif
      2. Pada belajar kooperatif adanya prinsip ketergantungan posistif (dalam belajar kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut), adanya interaksi tatap muka (memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota - anggota kelompok lain), adanya partisipasi dam komunikasi (melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi aktif dalam kegiatan pembelajaran) dan adanya tanggung jawab perseorangan (keberhasilan kelompok sangat bergantung dari masing – masing anggota kelompoknya).
      3. Kemandirian Siswa
      4. Kemandirian siswa dalam hal ini adalah siswa mampu mengerjakan tugas – tugas atau latihan – latihan yang berupa lembar kerja proyek yang diberikan oleh guru secara sendiri dan penuh dengan rasa tanggung jawab terhadap tugas proyek tersebut. Dengan adanya kemandirian dari siswa tersebut maka siswa tersebut telah menerapkan konsep gaya belajar mandiri.
  4. Langkah-Langkah Model Pembelajaran
    1. Model Pembelajaran Kooperatif
    2. Langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif adalah:
      • Fase-1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
      • Tingkah Laku Guru: Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
      • Fase-2 Menyajikan informasi
      • Tingkah Laku Guru: Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.
      • Fase-3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
      • Tingkah Laku Guru: Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
      • Fase-4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar
      • Tingkah Laku Guru: Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
      • Fase-5 Evaluasi
      • Tingkah Laku Guru: Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
      • Fase-6 Memberikan penghargaan
      • Tingkah Laku Guru: Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
      1. Jigsaw
      2. Langkah-langkah dalam model pembelajaran jigsaw:
        1. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang sisiwa.
        2. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda
        3. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan
        4. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka.
        5. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
        6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
        7. Guru memberi evaluasi.
        8. Penutup

      3. STAD (Student Teams Achievement Division)
      4. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
        1. Fase I (Pertama)
          • Menyampaikan tujuan dan memotivasi murid
          • Guru menyampaikan, semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi murid belajar.
        2. Fase II (Kedua)
          • Menyajikan informasi
          • Guru menyajikan informasi kepada murid dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
        3. Fase III (Ketiga)
          • Mengorganisasikan murid kedalam kelompok-kelompok belajar
          • Guru mengajikan kepada murid bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efesien.
        4. Fase IV (Keempat)
          • Membimbing kelompok bekerja dan belajar
          • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengadakan tugas mereka.
        5. Fase V (Kelima)
          • Evaluasi
          • Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
        6. Fase VI (Keenam)
          • Memberikan penghargaan
          • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau kelompok.

      5. TAI (Team Assisted Individualy)
      6. Langkah-Langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI:
        1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
        2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
        3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4–5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
        4. Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
        5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
        6. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual
        7. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

      7. GI (Group Investigation)
      8. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah:

        1. grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan)
        2. planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaiman mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya)
        3. investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi)
        4. organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis)
        5. presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan)
        6. evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.

      9. TPS (Think Pairs Share)
      10. langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) adalah:

        1. guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok,
        2. setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri,
        3. siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya,
        4. kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004).

      11. TGT (team Game Tournament)
      12. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah:

        1. Tahap penyajian kelas (class precentation)
        2. Bahan ajar dalam TGT mula-mula diperkenalkan melalui presentasi kelas. Presentasi ini paling sering menggunakan pengajaran langsung atau suatu ceramah-diskusi yang dilakukan oleh guru, Namun presentasi dapat meliputi presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja lebih dahulu untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka sendiri.

          Presentasi kelas dalam TGT berbeda dari pengajaran biasa, dalam presentasi tersebut harus jelas-jelas fokus pada unit TGT tersebut. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh-sungguh memperhatikan presentasi kelas tersebut, karena dengan begitu akan membantu mereka dalam turnamen/pertandingan dengan baik dan skor turnamen mereka menentukan skor timnya.

        3. Belajar dalam kelompok (teams)
        4. Siswa ditempatkan dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Fungsi utama tim adalah untuk memastikan bahwa semua anggota tim itu belajar. Secara lebih spesifik untuk mempersiapkan semua anggota tim agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

          Setelah guru mempresentasikan bahan ajar, tim tersebut berkumpul untuk mempelajari LKS atau bahan lain. LKS dapat diperoleh dari hasil penelitian dan pengembangan sebuah pusat, lembaga atau proyek yang telah punya LKS siap pakai atau dapat dibuat sendiri oleh guru. Ketika siswa mendiskusikan masalah bersama dan membandingkan jawaban, kerja tim yang paling sering dilakukan adalah membetulkan setiap kekeliruan atau miskonsepsi apabila teman sesama tim membuat kesalahan.

          Kerja tim tersebut merupakan ciri terpenting TGT. Pada setiap saat, penekanan diberikan kepada anggota tim agar melakukan yang terbaik untuk timnya, dan pada tim sendiri agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, dan tim yang menunjukkan saling peduli dan hormat, hal itulah yang memiliki pengaruh yang berarti pada hasil-hasil belajar.

        5. Games Tournament
        6. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan – pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok. Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing–masing ditempatkan dalam meja–meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

          Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal.

          Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar. Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain.

          Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

        7. Penghargaan Kelompok (team recognition)
        8. Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata – rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

      13. CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition)
      14. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC sebagai berikut :

        1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen.
        2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
        3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
        4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
        5. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
        6. Penutup.
        Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
        1. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
        2. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
        3. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.

    3. Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)
    4. Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :

      1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
      2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
      3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
      4. Menciptakan masyarakat belajar
      5. Menghadirkan model sebagia contoh belajar
      6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
      7. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

    5. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
    6. John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :

      1. Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
      2. Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
      3. Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
      4. Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
      5. Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
      6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

    7. Model Pembelajaran Langsung (DI)
    8. Langkah-langkah model pembelajaran langsung adalah:

      1. Menyampaikan orientasi pelajaran dan tujuan pembelajaran kepada siswa. Jadi pada tahap ini para pengajar menyampaikan beberapa hal yang harus dipelajari dan juga kinerja peserta didik yang diharapkan.
      2. Melakukan review pengetahuan serta keterampilan pra-syarat.
      3. Di sini guru akan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai siswa.
      4. Menyampaikan materi pelajaran.
      5. Dalam tahap ini pengajar akan menyampaikan materi dan informasi serta memberikan berbagai contoh dan sebagainya.
      6. Melaksanakan bimbingan.
      7. Jadi bimbingan ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk menilai tingkat pemahaman peserta didik dan mencoba untuk mengoreksi kesalahan konsep yang ada.
      8. Memberi kesempatan untuk siswa agar terus berlatih.
      9. Di sini guru memberi kesempatan untuk siswa agar terus melatih keterampilannya maupun menggunakan informasi yang baru secara kelompok atau individu.
      10. Menilai kinerja masing-masing siswa dan memberinya umpan balik.
      11. Dalam tahap ini seorang guru akan memberikan review terhadap segala hal yang sudah dilakukan siswa, kemudian guru akan memberi umpan balik atas respon siswa dengan benar.
      12. Memberikan latihan mandiri.
      13. Jadi guru juga bisa memberikan tugas secara mandiri untuk para siswa guna meningkatkan pemahaman atas materi yang telah disampaikan.

    9. Model Pembelajaran Terpadu
    10. Langkah-langkah model pembelajaran terpadu adalah:

      1. Tentukan sebuah tema yang sesuai.
      2. Libatkan semua siswa di kelas agar mendiskusikan kemungkinan tema yang akan diangkat dalam pembelajaran.
      3. Menentukan fokus pembelajaran.
      4. Memberikan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang beraneka macam yang berkaitan dengan tema yang akan jadi fokus pembelajaran.
      5. Mengembangkan strategi-strategi untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.
      6. Membentuk suasana belajar yang rileks tapi tetap serius.
      7. Membagi informasi-informasi yang dimiliki pada tema yang akan dipelajari.
      8. Mengajak siswa mencermati dan menentukan tujuan-tujuan pembelajaran personal (afektif).
      9. Mendorong demokrasi dalam belajar, kreatif, penemuan, dan kooperatif.
      10. Mendorong siswa untuk berbagi pengalaman dan informasi.
      11. Melibatkan berbagai narasumber yang mungkin dapat membantu seperti pustakawan, para profesional, orang tua siswa, hingga relawan.
      12. Membantu dan mengajak siswa menyajikan hasil kerja dan hasil belajar mereka.
      13. Memberi penekanan pada teknik-teknik reflektif dan tanggung jawab untuk evaluasi mandiri.

    11. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
    12. Langkah-langkah dari model pembelajaran MMP adalah sebagai berikut:

      1. Review
      2. Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah meninjau ulang pelajaran lalu terutama yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada pembelajaran tersebut, membahas soal pada PR yang dianggap sulit oleh siswa serta membangkitkan motivasi siswa.
      3. Pengembangan
      4. Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan berupa penyajian ide baru dan perluasan, diskusi, serta demonstrasi dengan contoh konkret. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi kelas. Pengembangan akan lebih baik jika dikombinasikan dengan control latihan untuk menyakinkan bahwa siswa mengikuti penyajian materi ini.
      5. Latihan terkontrol
      6. Pada langkah ini siswa berkelompok merespon soal dengan diawasi oleh guru. Pengawasan ini berguna untuk mencegah terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran.Guru harus memasukkan rician khusus tanggung jawab kelompok dan ganjaran individual berdasarkan pencapaian materi yang dipelajari.
      7. Seat work/kerja mandiri
      8. Pada langkah ini siswa secara individu atau kelompok belajara merespon soal untuk latihan atau perluasan konsep yang telah dipelajari pada langkah pengembangan.
      9. Penugasan/Pekerjaan Rumah (PR)
      10. PR tidak perlu diberikan kecuali guru yakin siswa akan berlatih menggunakan prosedur yang benar.Tugas PR harus memuat beberapa soal review.