Selasa, 13 Mei 2014

Model-Model Pembelajaran

Model Pembelajaran
  1. Pengertian Model Pembelajaran
  2. Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
    mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

    Model Pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang
    menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang : 2005)

    Istilah “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi
    pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992)
    Lebih lanjut Ismail (2003) menyatakan istilah Model
    pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
    1. rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
    2. tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
    3. tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan
    4. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

    Model pembelajaran merupakan salah satu komponen utama
    dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM).

    Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut
    pendapat para tokoh pendidikan antara lain:
    1. Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
    2. Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
    3. Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.

  3. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
    1. Model Pembelajaran Kooperatif
    2. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai
      makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

      Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan
      pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

      Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, diantaranya:

      1. Jigsaw
      2. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw
        adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).

      3. STAD (Student Teams Achievement Division)
      4. Model STAD adalah salah satu model belajar kooperatif
        yang paling sederhana, Sehingga model belajar tersebut dapat digunakan oleh guru-guru yang baru memulai menggunakan model belajar kooperatif. Slavin (1994) menyatakan bahwa dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu, berimbang menurut jenis kelamin. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, semua siswa diberi tes tentang materi itu. Pada saat diadakan tes mereka tidak boleh saling membantu. Skor siswa dibandingkan antara skor sebelumnya dengan skor yang baru diperoleh. Skor tiap anggota kelompok ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok dan kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau penghargaan.

      5. TAI (Team Assisted Individualy)
      6. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran
        kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.

        Model pembelajaran TAI memiliki 8 (delapan) komponen
        yaitu sebagai berikut (Slavin, 1995: 101–104).
        1. Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 5 siswa.
        2. Placement Test yakni pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu.
        3. Curriculum Materials yaitu siswa bekerja secara individu tentang materi kurikulum penutup penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pecahan, perbandingan, persen, statistika, dan aljabar.
        4. Team Study yaitu tahapan tindakan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya.
        5. Team Scores and Team Recognition yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan pemberian kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
        6. Teaching Group yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
        7. Fact Test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
        8. Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

      7. GI (Group Investigation)
      8. Group Investigationn merupakan salah satu bentuk
        model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

        Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah:
        lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, peralatan penelitian yang sesuai, meja dan kursi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu. Selanjutnya Thelen (Joyce dan Weil, 1980:332) mengemukakan tiga konsep utama dalam pembelajaran GI, yaitu: a. Inquiry b. Knowledge c. The dynamics of the learning group

      9. TPS (Think Pairs Share)
      10. Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik
        sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).

        Arends ( Komalasari, 2010: 84) mengemukakan bahwa:
        “Model pembelajaran Think Pair and Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair and Share dapat memberi murid lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu.”

        Bertitik tolak dari pengertian di atas, maka dapat
        disimpulkan bahwa ada tiga hal mendasar yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Think Pair and Share antara lain; berfikir ( thinking ), berpasangan ( pairing ), dan berbagi ( share ).

      11. TGT (team Game Tournament)
      12. Aktivitas pembelajaran kooperatif model TGT ini
        sebenarnya merupakan pengembangan dari STAD. Tujuan utamanya adalah kerjasama antar sesama anggota kelompok dalam suatu tim sebagai persiapan menghadapi turnamen yang dipersiapkan antar kelompok dengan pola permainan yang dirancang oleh guru. Dalam turnamen itu, siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. Pertanggungjawaban individu dalam suatu tim tetap menjadi fokus utama sebagai dukungan dari anggota terhadap keberhasilan kelompok. Bila dibandingkan dengan STAD, terdapat perbedaan pada langkah ketiga yaitu kuis diganti dengan turnamen antar kelompok, jenis turnamen kompetisinya diatur oleh guru menurut kemampuan tim dan hasil undian.

      13. CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition)
      14. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading
        andComposition-CIRC (Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis) merupakan model pembelajaran khusus Mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam rangka membaca dan menemukan ide pokok, pokok pikiran atau,tema sebuah wacana/kliping. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) ini dapat dikategorikan pembelajaran terpadu.

        Dalam pembelajaran CIRC atau pembelajaran terpadu
        setiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Setiap anggota kelompok saling mengeluarkan ide-ide untuk memahami suatu konsep dan menyelesaikan tugas (task), sehingga terbentuk pemahaman yang dan pengalaman belajar yang lama. Model pembelajaran ini terus mengalami perkembangan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah menengah. Proses pembelajaran ini mendidik siswa berinteraksi sosial dengan lingkungan.

    3. Model Pembelajaran Kontekstual(CTL)
    4. Menurut Nur Hadi CTL adalah konsep belajar yang
      mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.

      Menurut Jonhson CTL adalah sebuah proses pendidikan yang
      bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.

      Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas
      dapat kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

      komponen-komponen model pembelajaran CTL ini antara lain:

      1. Kontruktivisme
      2. Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran ini harus dikemas menjadi proses”mengkontruksi”bukan menerima pengetahuan.
      3. Inquiry
      4. Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasrkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Merupakan proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan ketrampilan berfikir kritis. Langkah-langkah dalam proses inquiry antara lain : a. Merumuskan masalah b. Mengajukan hipotesis c. Mengumpilkan data d. Menuji hipotesis e. Membuat kesimpulan
      5. Bertanya
      6. Bertanya dalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan .
      7. Masyarakat belajar
      8. Menurut Vygotsky dalam masyarakat belajar ini pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.
      9. Pemodelan
      10. Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sebagai sustu contoh yang dapat ditiru oleh siswa.
      11. Refleksi
      12. Refleksi adalah proses pengengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengerutkan dan mengevalusi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untuk mendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bersifat positif maupun bernilai negative.
      13. Penilaian nyata
      14. Penilaian nyata adalah proses yang dilukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa.

    5. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
    6. Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak
      zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

      Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah
      dikemukakan oleh Arends, diantaranya adalah :
      1. Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
      2. Fokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
      3. Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
      4. Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil pengamatan.produk bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.
      5. Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.

      Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah

      1. Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
      2. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
      3. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

    7. Model Pembelajaran Langsung (DI)
    8. Model pembelajaran langsung atau yang dikenal dengan
      direct instruction ini adalah sebuah model pembelajaran yang menitik beratkan pada penguasaan konsep dan juga perubahan perilaku dengan melakukan pendekatan secara deduktif.

      Di sini peran dari guru memang sangat penting sebagai
      penyampai informasi, sehingga sudah seyogyanya seorang guru memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada seperti tape recorder, film, peragaan, gambar dan sebagainya. Adapun informasi yang disampaikan bisa berupa pengetahuan yang sifatnya prosedural maupun pengetahuan deklaratif. Meskipun demikian kekurangannya yaitu model pembelajaran seperti ini tidak bisa digunakan setiap waktu serta tidak dapat diterapkan di semua tujuan pembelajaran.

      Ciri-Ciri/Karakteristik Direct Instruction (Model
      Pembelajaran Langsung)
      1. Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar.
      2. Adanya sintaks atau pola keseluruhan kegiatan pembelajaran.
      3. Adanya sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan baik.

    9. Model Pembelajaran Terpadu
    10. Pembelajaran terpadu merupakan suatu pembelajaran
      yang mengkaitkan tema-tema yang over laping utnuk dikemas menjadi satu tema besar yang kemudian dibahas dalam suatu pembelajaran. Model pembelajaran terpadu merupakan model pembelajaran dengan pendekatan yang menekankan pada aspek-aspek bersifat umum seperti kemampuan berpikir, kemampuan sosial, sikap dan perilaku. Menurut Fogarty, (dalam Prabowo, 2000 ) mengemukakan bahwa, ada sepuluh model pembelajaran terpadu. Kesepuluh model tersebut adalah berikut ini : 1. the fragmented model (model tergambarkan) 2. the connected model (model terhubung) 3. the nested model (model tersarang) 4. the squenced model (model terurut) 5. the shared model (model terbagi) 6. the webbed model (model terjaring) 7. the threaded model (model tertali) 8. the integrated model ( model terpadu) 9. the immersed model (model terbenam) 10.the networked model (model jaringan)

    11. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
    12. Model pembelajaran MMP merupakan suatu program
      yang didesain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa. Latihan-latihan yang dimaksud adalah lembar tugas proyek.

      Prinsip – prinsip atau unsur – unsur dalam model pembelajaran Missouri Mathematics Project ada 2 yaitu Belajar kooperatif dan Kemandirian Siswa.

      1. Belajar Kooperatif
      2. Pada belajar kooperatif adanya prinsip ketergantungan posistif (dalam belajar kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut), adanya interaksi tatap muka (memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota - anggota kelompok lain), adanya partisipasi dam komunikasi (melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi aktif dalam kegiatan pembelajaran) dan adanya tanggung jawab perseorangan (keberhasilan kelompok sangat bergantung dari masing – masing anggota kelompoknya).
      3. Kemandirian Siswa
      4. Kemandirian siswa dalam hal ini adalah siswa mampu mengerjakan tugas – tugas atau latihan – latihan yang berupa lembar kerja proyek yang diberikan oleh guru secara sendiri dan penuh dengan rasa tanggung jawab terhadap tugas proyek tersebut. Dengan adanya kemandirian dari siswa tersebut maka siswa tersebut telah menerapkan konsep gaya belajar mandiri.
  4. Langkah-Langkah Model Pembelajaran
    1. Model Pembelajaran Kooperatif
    2. Langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif adalah:
      • Fase-1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
      • Tingkah Laku Guru: Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
      • Fase-2 Menyajikan informasi
      • Tingkah Laku Guru: Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.
      • Fase-3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
      • Tingkah Laku Guru: Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
      • Fase-4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar
      • Tingkah Laku Guru: Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
      • Fase-5 Evaluasi
      • Tingkah Laku Guru: Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
      • Fase-6 Memberikan penghargaan
      • Tingkah Laku Guru: Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
      1. Jigsaw
      2. Langkah-langkah dalam model pembelajaran jigsaw:
        1. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang sisiwa.
        2. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda
        3. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan
        4. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka.
        5. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
        6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
        7. Guru memberi evaluasi.
        8. Penutup

      3. STAD (Student Teams Achievement Division)
      4. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
        1. Fase I (Pertama)
          • Menyampaikan tujuan dan memotivasi murid
          • Guru menyampaikan, semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi murid belajar.
        2. Fase II (Kedua)
          • Menyajikan informasi
          • Guru menyajikan informasi kepada murid dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
        3. Fase III (Ketiga)
          • Mengorganisasikan murid kedalam kelompok-kelompok belajar
          • Guru mengajikan kepada murid bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efesien.
        4. Fase IV (Keempat)
          • Membimbing kelompok bekerja dan belajar
          • Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengadakan tugas mereka.
        5. Fase V (Kelima)
          • Evaluasi
          • Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
        6. Fase VI (Keenam)
          • Memberikan penghargaan
          • Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau kelompok.

      5. TAI (Team Assisted Individualy)
      6. Langkah-Langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI:
        1. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
        2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
        3. Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4–5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang dan rendah) Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
        4. Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
        5. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
        6. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual
        7. Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).

      7. GI (Group Investigation)
      8. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah:

        1. grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan)
        2. planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaiman mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya)
        3. investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi)
        4. organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis)
        5. presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan)
        6. evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.

      9. TPS (Think Pairs Share)
      10. langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) adalah:

        1. guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok,
        2. setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri,
        3. siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya,
        4. kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004).

      11. TGT (team Game Tournament)
      12. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah:

        1. Tahap penyajian kelas (class precentation)
        2. Bahan ajar dalam TGT mula-mula diperkenalkan melalui presentasi kelas. Presentasi ini paling sering menggunakan pengajaran langsung atau suatu ceramah-diskusi yang dilakukan oleh guru, Namun presentasi dapat meliputi presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja lebih dahulu untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka sendiri.

          Presentasi kelas dalam TGT berbeda dari pengajaran biasa, dalam presentasi tersebut harus jelas-jelas fokus pada unit TGT tersebut. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh-sungguh memperhatikan presentasi kelas tersebut, karena dengan begitu akan membantu mereka dalam turnamen/pertandingan dengan baik dan skor turnamen mereka menentukan skor timnya.

        3. Belajar dalam kelompok (teams)
        4. Siswa ditempatkan dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Fungsi utama tim adalah untuk memastikan bahwa semua anggota tim itu belajar. Secara lebih spesifik untuk mempersiapkan semua anggota tim agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.

          Setelah guru mempresentasikan bahan ajar, tim tersebut berkumpul untuk mempelajari LKS atau bahan lain. LKS dapat diperoleh dari hasil penelitian dan pengembangan sebuah pusat, lembaga atau proyek yang telah punya LKS siap pakai atau dapat dibuat sendiri oleh guru. Ketika siswa mendiskusikan masalah bersama dan membandingkan jawaban, kerja tim yang paling sering dilakukan adalah membetulkan setiap kekeliruan atau miskonsepsi apabila teman sesama tim membuat kesalahan.

          Kerja tim tersebut merupakan ciri terpenting TGT. Pada setiap saat, penekanan diberikan kepada anggota tim agar melakukan yang terbaik untuk timnya, dan pada tim sendiri agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, dan tim yang menunjukkan saling peduli dan hormat, hal itulah yang memiliki pengaruh yang berarti pada hasil-hasil belajar.

        5. Games Tournament
        6. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan – pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok. Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing–masing ditempatkan dalam meja–meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

          Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal.

          Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar. Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain.

          Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

        7. Penghargaan Kelompok (team recognition)
        8. Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata – rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

      13. CIRC (Cooperative Integrated Reading Composition)
      14. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC sebagai berikut :

        1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang siswa secara heterogen.
        2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
        3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
        4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
        5. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
        6. Penutup.
        Dari setiap fase tersebut di atas dapat kita perhatikan dengan jelas sebagai berikut:
        1. Fase Pertama, Pengenalan konsep. Fase ini guru mulai mengenalkan tentang suatu konsep atau istilah baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, atau media lainnya.
        2. Fase Kedua, Eksplorasi dan aplikasi. Fase ini memberikan peluang pada siswa untuk mengungkap pengetahuan awalnya, mengembangkan pengetahuan baru, dan menjelaskan fenomena yang mereka alami dengan bimbingan guru minimal. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik kognitif pada diri mereka dan berusaha melakukan pengujian dan berdiskusi untuk menjelaskan hasil observasinya. Pada dasarnya, tujuan fase ini untuk membangkitkan minat, rasa ingin tahu serta menerapkan konsepsi awal siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan memulai dari hal yang kongkrit. Selama proses ini siswa belajar melalui tindakan-tindakan mereka sendiri dan reaksi-reaksi dalam situasi baru yang masih berhubungan, juga terbukti menjadi sangat efektif untuk menggiring siswa merancang eksperimen, demonstrasi untuk diujikannya.
        3. Fase Ketiga, Publikasi. Pada fase ini Siswa mampu mengkomunikasikan hasil temuan-temuan, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas. Penemuan itu dapat bersifat sebagai sesuatu yang baru atau sekedar membuktikan hasil pengamatannya. Siswa dapat memberikan pembuktian terkaan gagasan-gagasan barunya untuk diketahui oleh teman-teman sekelasnya. Siswa siap menerima kritikan, saran atau sebaliknya saling memperkuat argumen.

    3. Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)
    4. Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :

      1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
      2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
      3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
      4. Menciptakan masyarakat belajar
      5. Menghadirkan model sebagia contoh belajar
      6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
      7. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

    5. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
    6. John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :

      1. Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran, walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
      2. Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
      3. Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
      4. Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah.
      5. Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan
      6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

    7. Model Pembelajaran Langsung (DI)
    8. Langkah-langkah model pembelajaran langsung adalah:

      1. Menyampaikan orientasi pelajaran dan tujuan pembelajaran kepada siswa. Jadi pada tahap ini para pengajar menyampaikan beberapa hal yang harus dipelajari dan juga kinerja peserta didik yang diharapkan.
      2. Melakukan review pengetahuan serta keterampilan pra-syarat.
      3. Di sini guru akan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai siswa.
      4. Menyampaikan materi pelajaran.
      5. Dalam tahap ini pengajar akan menyampaikan materi dan informasi serta memberikan berbagai contoh dan sebagainya.
      6. Melaksanakan bimbingan.
      7. Jadi bimbingan ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan yang bertujuan untuk menilai tingkat pemahaman peserta didik dan mencoba untuk mengoreksi kesalahan konsep yang ada.
      8. Memberi kesempatan untuk siswa agar terus berlatih.
      9. Di sini guru memberi kesempatan untuk siswa agar terus melatih keterampilannya maupun menggunakan informasi yang baru secara kelompok atau individu.
      10. Menilai kinerja masing-masing siswa dan memberinya umpan balik.
      11. Dalam tahap ini seorang guru akan memberikan review terhadap segala hal yang sudah dilakukan siswa, kemudian guru akan memberi umpan balik atas respon siswa dengan benar.
      12. Memberikan latihan mandiri.
      13. Jadi guru juga bisa memberikan tugas secara mandiri untuk para siswa guna meningkatkan pemahaman atas materi yang telah disampaikan.

    9. Model Pembelajaran Terpadu
    10. Langkah-langkah model pembelajaran terpadu adalah:

      1. Tentukan sebuah tema yang sesuai.
      2. Libatkan semua siswa di kelas agar mendiskusikan kemungkinan tema yang akan diangkat dalam pembelajaran.
      3. Menentukan fokus pembelajaran.
      4. Memberikan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang beraneka macam yang berkaitan dengan tema yang akan jadi fokus pembelajaran.
      5. Mengembangkan strategi-strategi untuk menggunakan sumber daya yang tersedia.
      6. Membentuk suasana belajar yang rileks tapi tetap serius.
      7. Membagi informasi-informasi yang dimiliki pada tema yang akan dipelajari.
      8. Mengajak siswa mencermati dan menentukan tujuan-tujuan pembelajaran personal (afektif).
      9. Mendorong demokrasi dalam belajar, kreatif, penemuan, dan kooperatif.
      10. Mendorong siswa untuk berbagi pengalaman dan informasi.
      11. Melibatkan berbagai narasumber yang mungkin dapat membantu seperti pustakawan, para profesional, orang tua siswa, hingga relawan.
      12. Membantu dan mengajak siswa menyajikan hasil kerja dan hasil belajar mereka.
      13. Memberi penekanan pada teknik-teknik reflektif dan tanggung jawab untuk evaluasi mandiri.

    11. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
    12. Langkah-langkah dari model pembelajaran MMP adalah sebagai berikut:

      1. Review
      2. Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah meninjau ulang pelajaran lalu terutama yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada pembelajaran tersebut, membahas soal pada PR yang dianggap sulit oleh siswa serta membangkitkan motivasi siswa.
      3. Pengembangan
      4. Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan berupa penyajian ide baru dan perluasan, diskusi, serta demonstrasi dengan contoh konkret. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi kelas. Pengembangan akan lebih baik jika dikombinasikan dengan control latihan untuk menyakinkan bahwa siswa mengikuti penyajian materi ini.
      5. Latihan terkontrol
      6. Pada langkah ini siswa berkelompok merespon soal dengan diawasi oleh guru. Pengawasan ini berguna untuk mencegah terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran.Guru harus memasukkan rician khusus tanggung jawab kelompok dan ganjaran individual berdasarkan pencapaian materi yang dipelajari.
      7. Seat work/kerja mandiri
      8. Pada langkah ini siswa secara individu atau kelompok belajara merespon soal untuk latihan atau perluasan konsep yang telah dipelajari pada langkah pengembangan.
      9. Penugasan/Pekerjaan Rumah (PR)
      10. PR tidak perlu diberikan kecuali guru yakin siswa akan berlatih menggunakan prosedur yang benar.Tugas PR harus memuat beberapa soal review.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar